SEJARAH DESA

CIKAL BAKAL POHIJO

Disetiap desa mempunyai sejarah kelahiran atau asal usul terbentuknya sebuah desa yang lazim disebut cerita babad. Sedangkan didalam cerita babad terdapat tokoh yang disebut Cikal Bakal Desa yaitu Tokoh Pejuang/Perintis yang pertama kali babad alas mendirikan/membangun tempat tinggal dan mendiami  wilayah tersebut. Dalam perkembangannya penghuni wilayah tersebut beranak pianak dan beberapa pendatang yang ikut bertempat tinggal hingga terbentuk suatu pemukiman yang disebut Perkampungan. Dari perkampungan inilah menjadi asal usul sebuah desa.

Demikian halnya dengan Desa Pohijo, menurut sejarah asal usulnya bahwa terbentuknya Desa Pohijo diperkirakan sekitar abad 17. Hal ini dirunut dari sejarah, satu generasi dengan Kyai Ahmad Mutamakkin Kajen.

Sejarah asal usul Desa Pohijo dapat digali hanya dari cerita mulut ke mulut dari para sesepuh Desa yang masih hidup,tidak ada bukti tertulis cacatan sejarah(dokumen Desa) dan ataupun Prasasti.

Diceritakan bahwa cikal bakal desa Pohijo adalah seorang wanita yang bernama “ENDANG SURENI” yang berasal dari Pegunungan, oleh karena itu sebutannya memakai “ ENDANG “.yang mempunyai seorang suami yang bernama “SAWUNGGALING” yang berasal dari Madura.Keluarga tersebut mempunyai seorang anak puteri yang berparas cantik berkulit kuning langsat.

Mereka bertiga mengembara turun gunung menuju pati utara,hingga tiba disuatu hutan yang masih sunyi dan memutuskan bertempat tinggal di hutan tersebut, dan beliau memilih lokasi didekat pohon kepoh gagar/meranggas.Untuk pertama kali daerah tersebut di katakan “POH GAGAR”, tetapi anehnya setelah didiami oleh Keluarga tersebut daun dari pohon kepoh tadi bersemi dan menghijau. Untuk mengenang peristiwa tersebut Endang Sureni menamakan daerah tersebut dengan “POH IJO” yang artinya pohon kepoh yang dulu gagar menjadi berdaun lebat dan menghijau.

Adapun pohon kepoh yang diceritakan seperti tersebut diatas  sampai sekarang masih ada tumbuh dengan anggunnya ditepi jalan yang menuju Desa Pangkalan tepatnya lebih kurang sekitar 75 meter ke timur jalan raya Juwana – Tayu,dekat Kanal Pangkalan.

Untuk menentukan wilayah desa Pohijo Endang Sureni ipat-ipat menggunakan cara yang aneh dan ajaib yaitu dengan cara membakar kemben miliknya,Setelah menjadi langes/abu maka melayang-layanglah langes tersebut tertiup angin hingga jatuh kemana-mana.Tempat yang kejatuhan langes tersebut menjadi wilayah desa Pohijo.

Sampai sekarang ipat-ipat Endang Sureni dalam menentukan wilayah Desa Pohijo masih ada, ini dibuktikan dengan beberapa Desa tetangga yang sebagian wilayahnya masih diberi nama Bumi Pohijo yang sampai sekarang masih dikeramatkan, seperti Di Desa Kajen Kec. Margoyoso, Desa Margoyoso Kec. Margoyoso,Desa Purwodadi Kec. Margoyoso,Desa Puncak Wangi Kec. Puncak Wangi,dan Desa Dukuhseti Kec. Dukuhseti.

Pada suatu hari datanglah seorang pemuda yang berasal dari “DULANG MAS “ dengan membawa ayam jago berlurik kemplandhingan.Pemuda tersebut bernama “ SAYID RAHMAD “  ingin mengembangkan ajaran islam di desa Pohijo.

Kemudian Sayid Rahmad meminta ijin kepada Endang Sureni untuk bertempat tinggal dan mengembangkan ajaran islam di desa pohijo, dan Endang Sureni mengijinkan asal aturan-aturan yang berlaku tidak boleh dilanggar.Kemudian Sayid Rahmad tinggal disebelah tenggara Desa Pohijo,membuat rumah untuk mengembangkan ajaran islam.

Untuk memperdalam ilmu agama islam Sayid Rahmad mengaji diKajen berguru kepada KYAI AHMAD MUTTAMAKIN yang sangat terkenal  dengan ilmu dan kesaktiannya.Sayid Rahmad diterima sebagai murid oleh Kyai Ahmad Muttamakin bersama-sama dengan Kyai Cilik dari ngemplak kidul.Sayid Rahmad mengaji dengan tekun di Kajen,sehingga Kyai Ahmad Muttamakin terkesan,bahkan diakui sebagai anak sendiri.

Sayid Rahmad menikah dengan Putri Endang Sureni, dan dihadiahi tanah oleh Kyai Ahmad Muttamakin,sebagai bekal untuk ngupo-upo didalam menegakkan rumah tangganya nanti.Tanah tersebut berasal dari persembahan santrinya yang bernama Kyai Cilik sebagai balas budi beliau.Tanah tersebut ditumbuhi pohon kelapa sebanyak empat buah,oleh karenanya tanah tersebut sampai sekarang terkenal dengan sebutan Tanah “POPAPAT”.

POHON PENGGUNG SAKSI SEJARAH

Penggung merupakan pohon langka  berdaun  agak lonjong besar, tepinya bersirip dan buahnya bulat – bulat agak kecil kayak bekel/kemundu berwarna hijau disaat masih muda, sedang  yang sudah tua berwarna kehitam hitaman.Siapa yang menyangka pohon aneh itu berumur ratusan tahun.

Pohon tersebut berada  diwilayah Rt.04/ Rw.II ,tepatnya berada di depan samping kanan rumah Bapak Toyo – mamik.

Pohon penggung  oleh masyarakat Pohijo dianggap menyimpan sejarah karena sebagai tetenger bahwa di tempat tersebut pernah dibangun masjid Wali yang gagal.

Menurut sejarah diceritakan Suatu ketika Sayid Rahmad bermaksud mendirikan masjid dengan bantuan para wali.Hal ini diketahui oleh KI GABUL dan berniat untuk merusak rencana tersebut,apalagi lokasi yang direncanakan terletak didekat rumahnya yaitu dekat pohon penggung.

Ki Gabul adalah adalah seorang pemuda penduduk desa pohijo yang sombong,namun cukup sakti dan disegani oleh tetangganya.Ia mengabdi kepada Endang Sureni dan Sawunggaling sekian lama dan menaruh hati  kepada putrinya semata wayang.Hal ini yang membuat Ki Gabul penuh dendam dan cemburu kepada Sayid Rahmad karena menikahi putri Endang Sureni.

Pada waktu Sayid Rahmad mengheningkan cipta Ki Gabul mempersiapkan diri untuk mengacaukan rencana tersebut,diam-diam pada tengah malam dia memerintahkan para perempuan desa untuk menabuh lesung dan membangunkan ayam agar berkokok sebagai tanda waktu telah subuh. Konsentrasi Sayid Rahmad menjadi buyar,sehingga masjid yang dibangun para makluk halus dalam satu malam itu batal dan sia-sia saja sehingga yang ada hanyalah berupa tumpukan batu bata yang belum sempurna.

Sampai sekarang tempat tersebut dikenal dengan sebutan “PENGGUNG, karena ditempat tersebut tumbuh pohon Penggung.

Dalam hati Sayid Rahmad bersabda pada suatu hari nanti di Pohijo tetap akan berdiri sebuah masjid,walaupun yang mendirikan adalah atas inisiatif fihak-fihak luar.

Ki Gabul bersama komplotannya menyeret Sayid Rahmad yang sedang bersemedi,kedekat sebuah sumur dan disiksa habis-habisan.Tempat menyiksa Sayid Rahmad tersebut sekarang terkenal dengan nama “SAWAH SIKSAN”,terletak diperbatasan sawah desa pohijo dan Kertomulyo.Sayid Rahmad yang mendapat serangan bertubi-tubi dan mendadak akhirnya tidak kuat dan wafat, lalu mayatnya dibuang didekat perbatasan wilayah Desa Langgenhardjo, tempat tersebut sampai sekarang terkenal dengan sebutan SAWAH MAYIT.

Keesokan harinya terdengarlah titir yang menandakan adanya rojopati. Penggede Langgenharjo merukti jenazah Sayid Rahmad,dan dikebumikan dengan baik diperbatasan Desa Langgenharjo dan sawah desa Pohijo.Makam Sayid Rahmad sampai sekarang masih bisa diamati,sebagai bukti untuk menguatkan adanya sejarah desa Pohijo.

Istri Sayid Rahmad mendengar bahwa suaminya telah meninggal dengan mengenaskan,membuat hatinya terpukul dan bersedih dan beliau ipat-ipat tidak akan menikah lagi selamanya.Dia hidup menjanda dan karena berkulit kuning langsat maka terkenalah sebutannya sebagai “RONDHO KUNING” atau seorang janda yang berkulit kuning.

Rondho Kuning meminta ijin kepada Orang tuanya untuk manembah kepada Allah. Dengan ditemani oleh kerabatnya yang bernama “BISANA”, dibawah sebuah pohon gayam yang sangat rindang, jauh dari keramaian dan nafsu duniawi Beliau bersemedi untuk mensucikan diri selama 40 hari 40 malam lamanya. Dengan gentur beliau bertapa dan akhirnya permintaan beliau dikabulkan Allah SWT,akhirnya muksa atau hilang lenyap bersama jasadnya.Tempat beliau bersemadi  dan muksa sekarang terkenal dengan nama “SAWAH RONDHO KUNING”.

Dengan muksanya Rondho Kuning, Bisana kembali kepada Endang Sureni dan menceritakan kejadian tersebut. Endang Sureni dan Sawunggaling menjadikan Bisana sebagai anak angkat pengganti anaknya yang telah moksa.

Bukti sejarah lain adanya pembangunan masjid wali yang gagal adalah dam yang bernama “SIGIT” yang terletak di wilayah Rt.08/I didepan rumah Bapak Warso.

Sepeninggal wafatnya Kyai Ahmad Muttamakin terjadilah sebuah peristiwa, Kyai Cilik dari Ngemplak Kidul menanyakan masalah tanah Popapat dengan Cikal Bakal Pohijo.Tanah tersebut akan dimiliki kembali,dengan alasan tanah tersebut dipersembahkan kepada Kyai Ahmad Muttamakin,sedangkan Kyai A. Muttamakin sudah wafat. Oleh karenanya tanah tersebut kembali menjadi tanah Ngemplak Kidul.

Sawunggaling suami Endang Sureni tetap mempertahankan kedudukan tanah tersebut,karena secara sah telah diberikan kepada menantunya Sayid Rahmad sebagai hadiah pernikahannya dulu.Terjadilah debat sengit atau Padudon antara Sawunggaling dan Kyai Cilik,yang keduanya tidak ada yang mau mengalah bahkan diteruskan dengan perkelahian.Tempat terjadinya padudon tersebut dikenal dengan sebutan “SAWAH PADU”.

Perang tanding terjadi antara Sawunggaling dengan Kyai Cilik. Sawunggaling ditusuk dengan patram yaitu sebuah keris yang berukuran kecil yang disembunyikan disambilan (peralatan untuk menggaru sawah) sehingga Sawunggaling roboh bersimbah darah.

Melihat suaminya luka parah Endang Sureni menghardik Kyai Cilik,yang akhirnya Kyai Cilik kabur dan lari.

Endang Sureni bersabda bahwa selamanya tidak akan baik dengan orang Ngemplak Kidul karena telah membunuh suaminya.Sampai sekarang sabda Endang Sureni bagi sebagian masyarakat Pohijo masih dikeramatkan,sehingga masyarakat pohijo tidak berani untuk menikah dengan penduduk Ngemplak Kidul.

Endang Sureni dengan di bantu penduduk Pohijo memapah sang suami yang terluka parah menuju Puncak Gunung Muria untuk meminta pertolongan.

Perjalanan menuju Puncak Gunung Muria dilakukan setapak demi setapak,namun kondisi Sawunggaling makin memprihatinkan, dan darah banyak yang keluar dari tubuhnya. Sampailah didesa Lahar, Sawunggaling makin kritis, Akhirnya menghembuskan nafas yang terakhir, dan jenazahnya dirukti dengan baik disekitar desa tersebut, makamnya diberi nisan dua pohon jati sampai sekarang makam tersebut dikenal dengan “JATI KEMBAR”.

Sepeninggal suaminya Endang Sureni tetap tinggal menetap didasa Pohijo dan beliau ipat-ipat tetap hidup menjada sampai akhir hayatnya dan akan Mbau Rekso Desa Pohijo dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya.

Perjuangan Sawunggaling sampai tetes darah yang terakhir demi mempertahankan status tanah Popapat agar tetap menjadi wilayah desa pohijo merupakan jasa terbesar dari Sawunggaling yang dikenang Masyarakat Pohijo.Hingga sampai sekarang status tanah Popapat  tersebut tetap menjadi wilayah Desa Pohijo.

SEJARAH DONG WARU

Dong waru adalah sebuah sendang yang terletak di desa Pohijo, Kec. Margoyoso Kab. Pati terletak ditepi desa berbatasan dengan desa Pangkalan.Ditepinya banyak ditumbuhi pohon – pohon besar seperti pohon asem,pohon gayam,pohon meh,dan pohon ringin.Hal ini yang membuat suasana disekitar dong waru tampak nyaman dan adem.

Dong waru merupakan salah satu situs sejarah peninggalan Endang Sureni,yang masih di pelihara dan lestarikan oleh penduduk Desa Pohijo, bahkan setiap tahun diadakan ritual duduk dung waru yang merupakan salah satu kegiatan dari ritual bersih desa  oleh Pemerintah desa Pohijo.

Kegiatan ritual duduk dong waru diawali dengan Lek –lek an pada malam hari yaitu njagong atau lek –lek an semalaman, satu malam sebelum duduk.Paginya warga bersama perangkat desa melakukan kerja bakti pembersihan dilokasi sendang (duduk),dan pemotongan dua ekor kambing dan  dimasak oleh ibu-ibu.Setelah kerja bakti selesai kegiatan dilanjutkan dengan makan bersama atau mayoran.

Sejarah terbentuknya Dong Waru tidak lepas dari peristiwa besar yang dilakukan Endang Sureni dalam mencari solusi sumber mata air yang merupakan unsur vital dalam kehidupan sehari – hari, lebih – lebih didesa Pohijo yang mayoritas wilayahnya terdiri dari pertanian.

Setelah meninggalnya Sawunggaling , Endang Sureni hidup menjanda dan tetap tinggal menetap di Desa Pohijo dan menggantungkan hidupnya dengan bercocok tanam padi. Beliau melihat potensi desa pohijo dengan kesuburan tanahnya sangatlah cocok untuk bercocok tanam padi.Untuk itu perlu dilakukan penataan irigasi dan pencarian sumber mata air sebagai upaya mendukung usaha tersebut.

Musyawarah dilakukan antara Endang Sureni dengan Penggede Pangkalan Yaitu “SAMSODIN”  anak dari “KI BONTO” yang sudah uzur, untuk memecahkan masalah dan mencari solusi tersebut. Endang Sureni berpendapat bahwa hal itu bisa terjadi apabila minta bantuan “KI AGENG KENDURUAN“ yang terkenal dengan kebijaksanaan dan kesaktiannya.

Kenduruan adalah tempat pertapaan dilereng gunung muria yang dihuni oleh Ki ageng Kenduruan yaitu orang yang Limpad Ing Pamawas artinya seseorang yang tahu apa-apa yang bakal terjadi.

Akhirnya Samsodin setuju dan bersedia mengantarkan Endang Sureni ke Kenduruan ,asalkan nantinya Desa Pangkalan juga dapat ikut memanfaatkan sumber air tersebut.

Endang Sureni menuju Kenduruan dengan di temani Samsodin,setelah sampai didekat tujuan Samsodin tidak ikut masuk dan hanya menunggu diluar ,karena khawatir nantinya tidak akan diterima oleh Ki Ageng Kenduruan, karena seorang wanita tidak layak berjalan bersama dengan seorang pria yang bukan suaminya.

Endang Sureni menghadap Ki Ageng Kenduruan dan menceritakan permasalahan yang ada didesanya dan  minta bantuan untuk mendapatkan sumber mata air untuk pengairan sawah di desa Pohijo.Kemudian Ki Ageng Kenduruan memberikan empat buah telur kepada Endang Sureni.

Akhirnya Endang Sureni mohon diri untuk melaksanakan petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh Ki Ageng Kenduruan.

Dalam perjalanan pulang, Samsodin berupaya memikat hati Endang Sureni yang masih berstatus janda,dengan harapan sumber air yang akan terjadi nanti dapat dimanfaatkan oleh Desa Pangkalan. Sesampai di desa Sidomukti, Samsodin berupaya berbuat kasar yaitu tangan Ending Sureni ditariknya, sehingga telur yang ada digenggamannya jatuh satu dan pecah.Tempat jatuhnya telur tadi menjadi berbuih dan tak lama terbentuklah sebuah kedung yang dipenuhi air,hingga melimpah dan memenuhi tempat tersebut.Karena tempat tersebut ditumbuhi pohon resula,maka tempat tersebut dinamakan oleh Endang Sureni dengan nama “KEDUNG SULA”.Beliau berkata meskipun tempat tersebut bukan desanya , namun sampai kapanpun Kedung Sula akan mengairi persawahan desa Pohijo.Samsodin minta agar air dari Kedung Sula Juga Bisa dimanfaatkan untuk Desa Pangkalan, karena mengingat jasanya maka Endang Sureni menjawab bisa,tetapi sangat terbatas.

Perjalanan dilanjutkan melewati belukar menuju keutara,Samsodin berupaya berbuat kasar lagi hingga telur yang kedua terjatuh dan pecah, jadilah sebuah kedung walaupun agak kecil namun cukup memadai.Karena sikap Samsodin yang keliwat batas seperti tindak tanduknya buaya maka kedung tersebut dinamakan “KEDUNG BAYA”.Karena hati Endang Sureni sangat mangkel pada Samsodin atas perbuatan kasarnya maka Endang Sureni mengatakan bahwa air dari Kedung ini tidak bisa dimanfaatkan oleh desa Pangkalan.

Samsodin sangat nekad dan memburu Endang Sureni yang lari pontang panting menjauhi tempat samsodin dan ternyata giwang/suweng dari Endang Sureni jatuh bersamaan dengan jatuhnya telur ke tiga sehingga suweng tersebut terbenam dikedung yang baru saja terbentuk.Mengingat hilangnya suweng tersebut,kedung itu dinamakan “KEDUNG SUWENG”.

Endang Sureni terus saja berlari hingga tiba disuatu tempat yang banyak ditumbuhi pohon Waru dan bersembunyi sambil berdoa dibawah pohon tersebut. Samsodin dengan geram terus memburu dan mengejar Endang Sureni.  Dia harus memanfaatkan kesempatan yang terakhir untuk kesejahteraan desanya dan yang kedua dia harus bisa memiliki Endang Sureni menjadi istrinya.

Samsodin terperanjat melihat Endang Sureni berada dibawah pohon waru sambil berdoa.Hatinya tidak enak,namun dengan terpaksa dia mendekati Endang Sureni yang sedang berdoa dengan khidmad. Samsodin menyadari bahwa kepentingan umum harus didahulukan dari pada kepentingan pribadi.

Dengan was-was dia membangunkan Endang Sureni yang sedang berdoa,Endang Sureni terjaga dan mempersilakan duduk Samsodin dengan baik dan memperingatkannya agar jangan sampai mengulangi perbuatannya lagi yang tidak pantas dilihat umum.

Samsodin menyadari kesalahannya,akhirnya keduanya berdamai kembali,dan bercakap-cakap dengan serius. Samsodin meminta kepada Endang Sureni agar membagi air dari sumber air yang akan tercipta tersebut kepada desa Pangkalan,dan Samsodin berjanji tidak akan mengganggu lagi dan dia insyaf atas perbuatannya.

Keduanya kemudian berdoa dan menyatukan tekad agar sumber air yang tercipta nanti bermanfaat untuk kesejahteraan Warga Desa Pohijo dan Desa Pangkalan. Setelah berdoa Endang Sureni menjatuhkan telur,dan melaksanakan amanat sesuai petunjuk Ki Ageng Kenduruan. Tak lama berselang terbentuklah sebuah kedung yang sangat indah yang sempat memukau keduanya.

Kedung tersebut berair jernih disekitarnya ditumbuhi oleh pohon-pohon yang rindang, dan untuk mengingat bahwa pada saat Endang Sureni Dan Samsodin  berdoa beralaskan daun waru maka kedung tersebut dinamakan “KEDUNG WARU” atau “DONG WARU”.(Byn)