Sejarah Desa

LEGENDA POHIJO MISTERI PENGGUNG

Pohon Penggung ( Pohon Kepoh )

Mendengar nama penggung mungkin tak asing bagi sebagian warga/ masyarakat desa Pohijo terutama bagi kalangan sesepuh /pinisepuh desa, karena nama tersebut akan membayangkan pada suatu pohon tua yang berada  diwilayah Rt.04/ Rw.II ,tepatnya berada di depan samping kanan rumah Pak Toyo – mamik.

Bila kita lihat sepintas mungkin tidak ada yang aneh dari tempat tersebut, karena disampingnya ada rumah dan beberapa pohon kelapa yang tumbuh disekitarnya.Tapi bila kita amati secara seksama maka  mata kita akan tertuju pada satu pohon tua dengan daun yang agak lonjong besar, tepinya bersirip dan buah bulat – bulat agak kecil kayak bekel/kemundu berwarna hijau disaat masih muda, sedang  yang sudah tua berwarna kehitam hitaman.Siapa yang menyangka pohon aneh itu berumur ratusan tahun.

Itulah yang dinamakan pohon penggung, pohon satu satunya  yang tidak ditemukan di tempat lain di  wilayah desa Pohijo bahkan di luar Desa  sekalipun.Pohon penggung bagi sebagian warga menyimpan  sejarah , misteri dan dianggap keramat. Sementara untuk khasiat dan manfaat sampai saat ini belum ada yang tau, atau mungkin perlu sebuah kajian dan penelitian kali ya..heheee………

Tradisi Jaman dulu warga yang punya hajat mantenan , khitanan atau pendirian rumah biasanya membuat sesaji/buak an/ mayoran ditempat tersebut sebagai bentuk penghormatan atas sesepuh desa, agar hajatan/pekerjaan mendapat ridho dari sesepuh dan  sang Pencipta. Namun seiring perkembangan jaman  kegiatan tersebut sudah jarang dilakukan dan bahkan mulai ditinggalkan.

Sebelum masuknya agama islam di pohijo sebagian masyarakat sudah menganut ajaran kepercayaan yang disebut ajaran kejawen. Ini dibuktikan dengan adanya makam Para Dedanyang Pohijo seperti mbah banggi dan mbah tonggso, ada juga yang yang sudah masuk islam seperti mbah daham (sendang nganten) , sedang mbah sureni sendiri masih kontraversi apakah kejawen ataukah seorang muslimat.

Sedikit gambaran tentang ajaran Kejawen kutipan dari wikipedia :

Kejawen (bahasa Jawa Kejawèn) adalah sebuah kepercayaan atau mungkin boleh dikatakan agama yang terutama dianut di pulau Jawa oleh suku Jawa dan sukubangsa lainnya yang menetap di Jawa. Kata “Kejawen” berasal dari kata Jawa, sebagai kata benda yang memiliki arti dalam bahasa Indonesia yaitu segala yg berhubungan dengan adat dan kepercayaan Jawa (Kejawaan). Penamaan “kejawen” bersifat umum, biasanya karena bahasa pengantar ibadahnya menggunakan bahasa Jawa. Dalam konteks umum, kejawen merupakan bagian dari agama lokal Indonesia. Seorang ahli antropologi Amerika Serikat, Clifford Geertz pernah menulis tentang agama ini dalam bukunya yang ternama The Religion of Java atau dalam bahasa lain, Kejawen disebut “Agami Jawi”.

Kejawen dalam opini umum berisikan tentang seni, budaya, tradisi, ritual, sikap serta filosofi orang-orang Jawa. Kejawen juga memiliki arti spiritualistis atau spiritualistis suku Jawa.

……….Sumber http://id.wikipedia.org/wiki/Kejawen.

Menurut beberapa sesepuh desa/nara sumber yang masih hidup, diceritakan bahwa pohon penggung merupakan tetenger , bahwa ditempat tersebut pernah dibangun masjid wali, namun tidak selesai/gagal.

Adalah R. Rohmat seorang menantu  Endang Sureni (Cikal Bakal Pohijo) santri dari mbah Muttamakin Kajen yang berasal dari Tuban, berupaya mengembangkan dan menyebarkan agama islam di Pohijo. Salah satunya dengan mendirikan masjid wali yang letaknya di sekitar pohon penggung tersebut. Seperti biasa sejarah penyebaran islam dijawa sarat akan cerita mistis, begitu pula yang terjadi di Pohijo.Pembangunan masjid dengan Perjanjian kontrak Kerja hanya satu malam  oleh tenaga impor dari luar dunia alias dari alam ghoib itu mendapat menolakan dari para penduduk pohijo yang dipandegani seorang tokoh antagonis, yang bernama KI GABUL.

Ki Gabul sendiri merupakan penduduk asli Pohijo penganut ajaran Kejawen  yang tidak suka dengan  ajaran baru yang disebut islam. Mengenai biografi, keberadaan makam dan keturunannya sampai saat ini belum diketahui.

Pada tengah malam, saat para kuli bangunan dari dunia lain sedang sibuk bekerja,Ki Gabul dan pengikutnya berupaya menggagalkan pembangunan masjid wali dengan menabuh lesung dan membangunkan ayam agar berkokok sebagai tanda waktu subuh. Mendengar suara lesung dan ayam berkokok sontak saja  para kuli bangunan yang lagi overtime/nglembur  langsung berlari dan kabur meninggalkan pekerjaannya pulang ke alamnya masing masing karena waktu sudah habis (time is over). Akhirnya pembangunan masjid yang belum selesai itu terhenti dan pada malam malam berikutnya sudah tidak ada pekerjaan  pembangunan masjid, mungkin kontraknya sudah habis kali yeee….

Konflik antara Ki Gabul dan R. Rohmad tidak saja berhenti sampai disitu, karena masing – masing mempunyai kedikjayaan dan kesaktian Pertarungan duel maut pun dilakukan, yang akhirnya dimenangkan oleh KI gabul, dan R. Rohmad disiksa disuatu tempat yang sampai sekarang disebut dengan sawah siksan dan meninggal lalu mayatnya dibuang didekat wilayah Desa Langgenhardjo, sampai sekarang tempat tersebut terkenal dengan sebutan sawah mayit.

Sementara mayat R. Rohmad sendiri dikubur dan dikebumikan oleh orang Langgenhardjo diwilayah Langgenhardjo. Musti matur suwun neeh ma warga Langgen yang mau ngruwat mayat R. Rohmad……..

Bukti adanya bekas bangunan masjid sampai saat ini dituturkan Pak mistato ketika membangun rumahnya, waktu digali terdapat beberapa pondasi dengan batu dan bata kuno yang besar – besar, disamping itu masih adanya bukti berupa peninggalan dam air yang bernama dam sigit, yang terletak dipertigaan jalan Rt. 04/II, depan rumah pak kandar alm.(BYN-2011)