RITUAL DUDUK DONGWARU

Dong Waru adalah merupakan salah satu situs peninggalan mbah Sureni,yang berbentuk kolam mirip hurup “S” yang terletak di pojok utara Desa Pohijo Kec. Margoyoso Kab. Pati,diselatan jalan Pangkalan,atau di Barat Desa Pangkalan dan diapit areal persawahan . Kegiatan duduk dong waru diselenggarakan setiap tahun (Tahunan) yang merupakan salahsatu rangkaian acara ritual dalam Kegiatan sedekah bumi Desa Pohijo,biasanyadiselenggarakan pada Bulan Apit ( Bulan Jawa ) pada Hari selasa Pon Atau Rabu Pon.

Kegiatan dalam duduk dong waru:

  1. Pembersihan kolam/duduk

Kegiatan duduk dong waru merupakan proses pembersihan lingkungan dong waru dengan menyapu sampah atau daun daun kering dikumpulkan dan dibakar,dan pengerukan (duduk) area kolam supaya tidak  terjadi pendangkalan dan penyempitan.Kegiatan ini ilakukan oleh warga desa Pohijo secara bersama sama  (kerja Bhakti ) sebagai wujud kepedulian masyarakat pohijo terhadap situs peninggalan mbah Sureni selaku cikal bakal desa pohijo.

  1. Mayoran/bancaan

Selain Duduk, kegiatan selanjutnya adalah pemotongan hewan kambing sebanyak 2 ekor oleh Bapak Modin,dan dimasak oleh ibu ibu dilokasi dong waru,dimana bumbu – bumbu dan ubo rampe sudah disiapkan dari rumah.

Setelah matang, ibu ibu Perangkat menyiapkan takir yang sudah diisi nasi dan sayur daging kambing,dan ditaruh berjejer diatas tikar/terpal.

Setelah kegiatan bersih bersih dan duduk selesai, masyarakat secara bersama sama mengelilingi takir tersebut siap untuk mayoran/bancaan.Sebelum acara mayoran dimulai terlebih dahulu Kepala Desa memberikan sambutan dan Bapak Modin memimpin doa.

Conon menurut cerita dari para sesepuh desa,Nama Dong Waru berasal dari kata Kedung Waru yang pada jaman dulu merupakan sumber mata air.

Dulu masyarakat Pohijo mayoritas hidupnya bergantung pada bercocok tanam, tentulah mata air menjadi kebutuhan pokok yang tidak bisa ditinggalkan.Mbah Sureni pergi ke Gunung Muria untuk menghadap Sunan Muria dengan tujuan untuk meminta petunjuk.Oleh Sunan Maria, Mbah Sureni diberi 4 buah telur yang mana apabila telur itu dijatuhkan ketanah maka disitulah terdapat sumber mata air.

Setelah mendapat telur dari Sunan Kudus Mbah Sureni pulang ke Pohijo,tapi dalam perjalanan pulang, Mbah Sureni yang berparasc antik tersebut digoda oleh laki laki yang berasal dari Desa Sebelah.Akhirnya telur pertama jatuh disekitar persawahan Desa Sidomukti dan diberi nama Dong/Kedung Sulo,telur kedua jatuh di wilayah persawahan Pohijo (LorKanal ) berbatasan dengan Desa Bulumanis dan diberi nama Dong/Kedung Boyo, telur ketiga jatuh di sawah klumpit wilayah Desa Pohijo dan di beri nama Dong/Kedung Suweng dan telur keempatj atuh di sawah emas wilayah Desa Pohijo dan diberi nama Dong/Kedung Waru.Keempat tempat tersebut masih dikenal sampai sekarang dan merupakan sumber mata air.(BYN)

 

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan